Kumpulan Cerita Motivasi, Kata Motivasi, Contoh Artikel, Motivasi Hidup Terlengkap

Halaman

Quote

Quote

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Quote

Search

Ads

Best friend

Rabu, 16 Oktober 2013

Artikel Inspirasi Motivasi Bisnis Ambar Turatminah Menembus Pasar Mancanegara dengan Telur Asin Rendah Kolesterol

Bisnis Ambar Turatminah Menembus Pasar Mancanegara
Telur asin bagi mereka yang menyukainya tetapi mengidap penyakit-penyakit tertentu, bak buah simalakama. Tapi, Ambar memberikan solusinya dengan “menciptakan” telur asin yang sehat. Telur asin yang bagaimanakah itu?

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Begitulah kurang lebih gambaran perjalanan bisnis Ambar Turatminah. Dikatakan begitu, sebab Ambar, begitu perempuan ini akrab disapa, yang memulai usaha ternak dan penjualan (burung) puyuh dan telurnya sejak tahun 2000, harus menghadapi kenyataan bisnisnya hancur berantakan ketika flu burung menghantamnya. Ia tidak mampu bangkit, karena terhalang oleh Peraturan Daerah tentang bebas unggas di daerah pemukiman.

Dua tahun kemudian, perempuan yang membangun usahanya di kediamannya yang berlokasi di Cilincing, Jakarta Utara (Jakut), ini beralih usaha dengan berjualan telur itik/bebek yang dimulainya dengan 50 butir. “Sudah ngider ke mana-mana, tapi tidak laku juga. Modalnya Rp50 ribu, yang kembali cuma Rp10 ribu,” kisahnya. Imbasnya, 20 karyawannya pun mengundurkan diri.

Menghadapi kondisi ini, Ambar tidak patah arang sama sekali. Pada tahun 2004 dan dengan modal Rp1 juta, ia beralih ke penjualan telur asin. Tapi, bukan sekadar telur asin melainkan telur asin rasa udang. “Dari seorang teman yang mengikuti pelatihan di Jepang, saya memperoleh informasi bahwa kepala udang mengandung banyak manfaat bagi tubuh manusia. Padahal, di Indonesia, tepatnya di Muara Angke, Jakut, kepala-kepala udang itu diabaikan dan hanya menjadi limbah,” tuturnya.

Lalu, ia mengambil limbah kepala udang tersebut. Dan, uniknya, ia justru memperoleh bayaran dari pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah kepala udang itu. Lantas, limbah itu ia jadikan makanan bebek-bebek peliharaannya. Hasilnya, bila semula bagian tengah dari telur bebek itu berwarna kuning, selanjutnya berubah menjadi kuning kemerahan. Rasanya pun lebih enak dan gurih, serta tidak terlalu asin.

Kemudian, sarjana D-2 jurusan matematika Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) Purworejo, ini “memeriksakan” telur tersebut ke laboratorium kesehatan masyarakat Institut Pertanian Bogor. Hasilnya, ternyata, telur tersebut mengandung protein, kalsium, dan betakarotine lebih tinggi daripada telur asin biasa. Selain itu, juga mengandung omega-3, fosfor, zat besi, dan vitamin. “Imbasnya, dalam pemasarannya, terjadi booming,” katanya.

Namun, ia belum puas dan ingin lebih maju lagi. Ia ingin “menciptakan” suatu produk yang lain daripada produk sejenis yang sudah ada. Kebetulan, ia memiliki kebun herbal. Dan, terbersit dalam pikirannya untuk membuat telur asin rasa udang herbal. Tahun 2006, ide itu diwujudkannya.

Naluri bisnisnya benar. Dari satu pameran ke pameran berikutnya, telur asin rasa udang herbalnya mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Bahkan, Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual mengganjar hasil karyanya dengan penghargaan sebagai produk kreatif inovatif. Imbasnya, Carrefour, jaringan supermarket internasional yang berkantor pusat di Prancis, tertarik dan secara teratur memesan telur ini.

“Berdasarkan uji lab, diketahui bahwa telur asin rasa udang herbal memiliki kandungan kalori, protein, dan betakarotine lebih tinggi ketimbang telur asin rasa udang, serta terdapat kandungan DHA dan Omega-3. Selain itu kandungan lemaknya cuma 5 (kandungan lemak pada telur asin rasa udang 14, red.),” ungkapnya. Imbasnya, anggota masyarakat yang tidak bisa mengonsumsi telur asin lantaran menderita tekanan darah tinggi atau kolesterol tinggi, menjadi bisa mengonsumsi telur asin rasa udang herbal ini.

Hasil yang menggembirakan pada inovasi produk ini juga membuat para karyawan yang baru bergabung merasa senang. Ke-20 karyawan yang tergabung dalam usaha yang dinamai Candi Jaya ini bersyukur, karena pada akhirnya produk mereka laku dan imbasnya gaji mereka pun naik. Semangat kerja mereka pun menggebu-gebu. “Bahkan, mereka berharap suatu saat nanti bisa terus menjalankan usaha ini, meski tanpa kehadiran saya,” ujarnya.

Namun, tidak berarti usaha ini berjalan semulus jalan tol. Ketersediaan bahan baku yang menjadi masalahnya. Sehingga, tidak semua permintaan dapat dipenuhi. Sekadar informasi, kapasitas produksi telur-telur yang berlabel Ambar Jaya ini maksimal 40 ribu butir, sementara kapasitas permintaan sebanyak 30−45 ribu butir per bulan. Di luar itu, Ambar dan timnya masih harus memenuhi permintaan dari Korea dan Brunei setiap tiga bulan sekali sebanyak 3.000 butir, serta dari Malaysia sebanyak 2.000 butir.

“Bahkan, kami belum mampu memenuhi permintaan dari Arab Saudi, mengingat masa kadaluarsa produk ini hanya seminggu (dalam suhu ruang, red.). Sedangkan untuk ke Arab Saudi, setidaknya harus mampu bertahan selama sebulan. Untuk itu, saya menjalin kerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional. Hasilnya, mereka berhasil membuat telur asin saya bertahan hingga sebulan. Tapi, saya belum puas. Saya sedang mencoba lagi agar bisa bertahan sampai tiga bulan, tanpa mengurangi rasa meski bagian tengahnya berubah pucat,” jelas Ambar, yang membuka outlet di UKM Center, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Di samping itu, Carrefour memberikan standar bobot telur asin yang dipasok seberat 66 gr, sedangkan yang tersedia di pasar hanya seberat 55 gr−60 gr. Untungnya, Ambar memiliki pemasok yang mampu mengatasi hal ini. “Untuk Carrefour, kami memang harus bekerja keras untuk memenuhinya, mengingat pemasok kami untuk hal ini hanya satu. Sementara untuk yang kami jual ke umum atau untuk memenuhi pesanan, kami gunakan bobot yang ada di pasar,” ungkap Ambar, yang menjual telur asin rasa udang herbalnya dengan harga Rp3.500,-/butir.

Sementara masalah pasokan bahan baku, Ambar melanjutkan, nantinya akan diatasi dengan merekrut para remaja untuk menjalankan usaha peternakan bebek yang khusus menghasilkan telur. “Seorang investor telah menyediakan lahan di Bogor. Untuk modalnya, saya sudah mendapat tawaran dari Kementerian Koperasi dan UKM. Dan, untuk bimbingannya, saya akan menjalin kerja sama dengan Suku Dinas Peternakan Jakarta Utara,” pungkasnya, optimis.

Artikel Motivasi Bisnis | Dari Emping Melinjo, Kini Bisnis Ida Kian Mekar

Inspirasi Sukses

Artikel Motivasi Bisnis |  Dari Emping Melinjo, Kini Bisnis Ida Kian Mekar 


Kejelian dalam melihat peluang merupakan bekal Ida Widyastuti menapak belantara bisnis. Dari berdagang emping di pasar, Ida membangun bisnis snack, camilan, dan keripik. Setelah menguasai pasar Indonesia Timur, Ida siap mengembangkan lini bisnisnya yang lain.

Kepahitan hidup masa lalu sering menjadi pecutan bagi sebagian orang untuk meraih sukses. Demikian pula bagi Ida Widyastuti. Berbagai keterbatasan memupuk tekadnya menjadi seorang pengusaha. Bahkan, kini, Ida sukses berbisnis snack dan camilan lewat bendera Mekarsari.

Lulus dari SMA, Ida harus kecewa lantaran tak bisa meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Biaya menjadi kendalanya. Ia pun lantas merantau ke Batam, bekerja di sebuah perusahaan Jepang.

Namun, keinginan menjadi pengusaha terus memanggilnya. Hingga, saat sang suami, Harris Setiawan, pindah kerja ke Surabaya. Ida pun mulai berdagang emping melinjo di Pasar Gedangan, Sidoarjo, sekitar tahun 2001. Ia terinspirasi oleh salah satu saudaranya yang menjadi perajin emping di Demak.

Awalnya, perempuan 39 tahun ini membuat emping sendiri. Ternyata, harga emping buatannya lebih mahal dibanding dengan harga pedagang lain di pasar tersebut. Lantas, Ida mengambil emping dari perajin di Demak, kota kelahirannya.

Harga murah menjadi strategi Ida untuk mendapat pelanggan. Upaya ini pun berhasil. Banyak pedagang mengambil emping dari Ida. Namanya pun cepat dikenal hampir di seluruh pasar tradisional Sidoarjo.

Usaha emping ini makin berkembang, saat Harris ikut menemani Ida berbisnis. Pada akhirnya, Harris memang mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk membantu Ida. “Dia rela mengangkut bal emping ke toko-toko, sementara saya yang getol menawarkan dagangan,” kenang Ida.

Pada 2003, emping dengan merek Kawanku itu berhasil menguasai pasar Malang dan Probolinggo. Karena dikenal murah, permintaan menjalar hingga ke Kalimantan. Tak heran, dalam setahun, pasokannya mencapai 500 ton.

Tak hanya memasarkan emping, Ida yang memiliki insting bisnis tajam pun mencium potensi bisnis snack atau camilan. Maklum, ia tak bisa mengandalkan jualan emping belaka, yang sering dikaitkan dengan kolesterol dan asam urat.

Pabrik keripik pisang

Dengan kekuatan modal yang telah dimilikinya, pada 2004, Ida bergerilya mendatangi beberapa pemasok snack dan camilan di Jakarta dan Jawa Barat. Ia ingin menjalin kerja sama dengan mereka, untuk memasarkan camilan itu ke berbagai daerah. “Tapi, kami ditolak oleh supplier yang mayoritas pemain lama,” ujar dia.

Namun, Ida tak menyerah. Ia pun memutuskan untuk mencari camilan tradisional langsung dari produsennya. Bersama suami, ia menyisir Bandung, Cianjur, Indramayu, Kuningan, Ciamis, dan Cirebon untuk mencari perajin camilan.

Selama dua tahun, Ida menyiapkan bisnis barunya. “Karena selain hunting UKM, saya harus menyatukan visi dan memberi pengarahan pentingnya mutu, rasa hingga pengemasan,” tutur Ida. Ia rela merogoh kantong hingga Rp 50 juta, untuk memodali biaya para perajin camilan, agar mereka dapat memproduksi makanan dalam jumlah  yang besar.

Sama seperti pemasaran emping, Ida mendistribusikan berbagai camilan ini ke toko-toko dan pasar tradisional yang telah menjadi pelanggannya. Ida pun menyematkan nama Mekarsari, yang berarti terus mekar, sebagai merek dagangnya.

Benar saja, sesuai harapan, penjualan Mekarsari terus mengembang. Meski awalnya kesulitan, lantaran ada pemain lama, ia berhasil menembus pasar Bali. Karena pengiriman lewat truk tak bisa mencukupi permintaan, akhirnya Ida membuka gudang di Bali.

Ida mengakui, kejeliannya melihat peluang menjadi kunci sukses usaha. Saat melihat pasokan pisang yang sangat melimpah di Trenggalek, ia pun terpikir berusaha pembuatan keripik pisang. “Kebetulan, pisang tanduk di sana punya keunikan, besar-besar dan rasanya manis,” kata Ida.

Lantas, Ida pun membuat pabrik keripik pisang sendiri. Kini, dua pabriknya, di Trenggalek dan Sidoarjo, mampu mengolah hingga tujuh ton pisang setiap hari. Untuk menjaga pasokan, Ida menjalin mitra dengan 250 petani dan beberapa orang pengepul.

Tak hanya pabrik pisang, pada 2009, Ida membangun gerai di Pondok Jati, Sidoarjo. Ribuan orang selalu mampir ke Roemah Snack Mekarsari yang buka 24 jam alias sepanjang waktu.  Di luar Sidoarjo, ia juga membuka cabang di Krian, Sidoarjo dan Denpasar, Bali.

Setiap bulan, Ida mengirim ratusan truk camilan untuk para distributornya. Maklum, Mekarsari sudah merambah berbagai kota di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Kini, Ida yang hobi travelling, berekspansi dengan membuka agen perjalanan yang menyelenggarakan tur ke tempat-tempat wisata. Ia juga mengembangkan bisnis ekspedisi.

Sekarang, lebih dari 160 karyawan menggantungkan hidupnya pada bisnis Ida. Di luar itu, ada ratusan UKM camilan yang menjadi pemasok camilan untuk Mekarsari.